Nama Yoyok Riyo Sudibyo melenting sejak dia menerima penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award, medio tahun kemarin. Tapi, karena itu pula `ketenangan` Bupati Batang, daerah kecil di Jawa Tengah, itu terusik. Banyak orang jadi hendak bertemu dan mengenal sosoknya.
Bung Hatta Award adalah sebuah penghargaan prestisius. Penerimanya orang-orang bersih. Pemberantas korupsi. Yoyok menjadi salah satunya karena dinilai berhasil memerangi korupsi dan mereformasi birokrasi di Batang.
Bukan perkara mudah bagi Yoyok melakukan semua itu. Bahkan, pada tahun pertama kepemimpinannya, sejak dilantik pada 13 Februari 2012, bapak dua putra itu nyaris menyerah. Dia merasa tak akan mampu menakhodai Hanacaraka.
"Kehidupan saya hancur mas...," Yoyok berkata sambil menarik napas dalam-dalam lalu mengentakkannya keras-keras di hadapan wartawan Metrotvnews.com M. Rodhi Aulia dan Sjaichul Anwar di ruang belakang rumah dinas bupati di Jalan Veteran, akhir pekan kedua Maret 2016.
Belakangan, Yoyok mengurungkan niatnya. Akhirnya, meski dalam sepi, dia memilih terus berkarya. Pensiunan tentara berpangkat mayor ini tak henti membuat terobosan agar pemerintahan di Batang, bersih. Transparan. "Banyak program unik di Batang. Mas saja yang tidak pernah mampir ke sini."
Satu di antara program unggulan Yoyo adalah Festival Anggaran. Kegiatan ini rutin dihelat saban tahun sejak dirinya disumpah menjadi orang nomor satu di Batang. Di tengah obrolan santai, tiba-tiba Budi Prasetyowati, istrinya, menyapa ramah sambil membawakan suguhan buah duku dan rambutan untuk kami. "Monggo dicicipi mas. ini asli Batang loh..."
Satu tahun memimpin, Anda sempat nyerah dan mau mundur. Mengapa?
(Menarik napas dalam-dalam).... Saya habis mas! Benteng terakhir saya yang waktu itu masih melekat tinggal satu: kesehatan. Yang lain habis! Kalau dipsikotes, saya pastikan diri saya gila. Saya stres! Jadi korban kabeh. Anak ku jadi korban. Bojo ku jadi korban. Karena stres.
Memang tidak pernah terbayang jadi bupati itu seperti apa?
Enggak. Tahun pertama itu, (berita) saya (mau) mundur sudah tersebar ke mana-mana. Saya enggak sanggup. Sempat dipanggil pak Bibit (Waluyo, Gubernur Jawa Tengah saat itu-Red.) gara-gara beliau tahu, saya mau mundur.
Kalau bapak saya nyukurin. Salah mu.... Saya nangis di pangkuan ibu. Ibu saya bilang, `Kamu sudah sumpah lho. Lima tahun. Pangkat mu itu ringan, bisa beli di Pasar Senen (Jakarta Pusat). Tapi, yang berat itu sumpah mu sama rakyat, lima tahun. Kamu harus kuat.`
Tak pernah terbayang, lalu kenapa Anda terjun ke dunia politik?
Mulanya, ketika masih berdinas militer, saya dikirim ke Papua, untuk menyamar jadi pedagang. Saya dagang. Eh, malah maju. Kok enak. Akhirnya, saya mundur pada 2007. Pangkat mayor.
Saat bisnis naik, saya punya kebebasan finansial dan waktu. Saya manfaatkan itu. Kebetulan, ketika menengok orang tua pada 2011, di kampung saya sedang ada ramai-ramai. Ada tradisi silaturahmi kampung. Kebetulan pula momennya mendekati pilkada.
Lalu, adik saya yang Brimob, menantang saya ikut pilkada. Bapak saya melarang, tapi adik saya tak henti mengatakan, `Sampeyan itu tentara, masa disuruh ikut pilkada saja enggak berani. Saya polisi, kalau perlu, saya berani.`
Saya kaget, tidak menyangka adik saya berani berkata seperti itu. Saya tidak rela `dikecilkan`. Akhirnya, bismillah, saya ikut pilkada. Tahunya, jadi mas! Padahal, mulanya hanya main-main.
Yoyo Riyo Sudibyo usai dilantik, 13 Februari 2012.Dok/Istimewa
Terdengarnya seperti serba kebetulan. Dan, setelah jadi di tengah jalan Anda mau mundur. Apa yang membuat Anda bertahan?
Support dari kanan kiri. Lalu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) mulai melihat, ternyata warna saya seperti ini dan ada yang mulai mengikuti. Tapi, yang dahsyat karena ada orang tua dan teman lembaga swadaya masyarakat: Transparansi International Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Ombudsman, Fitra, Laskar, Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2), dan lain-lain.
Sekarang, akhirnya, Anda menuai pengakuan. Diganjar Bung Hatta Anticoruption Award pula. Apakah Anda pernah berpikir untuk maju lagi di 2017?
No, no, sudah cukup saya....
Kenapa, kapok?
(Yoyok kembali menarik napas dalam-dalam) Saya tidak punya bahasa tepat untuk menggambarkan. Yang jelas, saya tidak pernah membayangkan sampai separah ini situasinya. Enggak pernah membayangkan situasi memimpin itu seberat dan separah ini.
Pertanyaan itu terus (datang) ke saya. Sebenarnya 2,5 tahun lalu, saya sudah omong ke rakyat saya bahwa saya tidak akan nyalon lagi. Harapan saya 2,5 tahun lalu, kalau ada orang yang tertarik jadi bupati Batang, mau datang ke sini. Belajar tentang ilmu pemerintahan, belajar ke kami agar nanti tidak sengsara seperti saya.
Tapi, alhamdulillah sampai hari ini belum ada yang datang. Hahaha....
Di militer Anda punya anak buah, demikian pula saat menjabat bupati. Apa bedanya jadi tentara dan bupati?
Sampeyan kalau tanya itu sama saja tanya, warna merah itu merah dan putih itu putih. Beda warnanya. Bisa campur, ya enggak. Enggak bisa disamakan situasinya.
Ketika dinas militer, saya memimpin 30 prajurit. Tapi, sebelum memimpin, ada sekolahnya (akademi militer-Red.). Empat tahun. Nah, ketika harus memimpin birokrat, apa modal saya. Tahu apa saya, tentang anggaran, tentang politik, birokrasi, dan tata kelola hukum. Bekal saya nol besar. Sementara yang saya pimpin para birokrat berpengalaman. Sabuk hitam semua. Ngawur yang milih saya.
Tes kesehatan saat mau nyalon juga tipu-tipu. Buktinya, ada tidak yang enggak lulus. Lulus semua, se-Indonesia raya. Saat psikotes, semua pertanyaan saya jawab ngawur, toh lulus juga. Padahal, saat disuruh menggambar, saya menggambar calon lawan saya dahulu.
Sekarang Anda paham anggaran dan politik?
Menurut saya ini pekerjaan rumah besar. Seharusnya, pemerintah memberikan solusi. Minimal menyediakan sekolah untuk siapa pun yang hendak maju sebagai kepala daerah. Kalau lulus, silakan partai ambil. Mau maju independen pun silakan.
Jangan kayak saya, orang yang tidak punya modal birokrat apa-apa. Coba bayangkan kalau yang menang pilkada pencandu narkoba. Padahal, setelah jadi harus bertanggung jawab terhadap ribuan PNS, triliun rupiah uang yang harus dipertanggungjawabkan dengan segala problematiknya. Mau nyaman! Enggak mungkin.
Anda belajar kepada siapa?
Saya mulanya meniru-niru kepala daerah yang sudah berhasil, kayak mbak Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini). Juga pak Jokowi waktu di Solo (sekarang Presiden RI-Red). Program mereka saya tiru dan coba diterapkan di Batang.
Sistem lelang mbak Risma, misalnya. Itu buatnya puluhan tahun, tapi saya hanya 10 menit untuk mengcopy dan memindahkan ke flashdisk yang saya bawa. Mbak Risma jago kerena kan dari awal pegawai negeri. Lah, saya. Otak lagi senang-senangnya dagang, disuruh masuk jadi birokrat. Habis saya.
Ketika datang ke Surabaya untuk belajar, mbak Risma justru tertawa terpingkal-pingkal. Mungkin dia menganggap saya lucu. Akhirnya, sampai sekarang, kalau ketemu belum apa-apa dia sudah tertawa. Saya diam salah, saya ngomong dia ngakak.
Waktu mau memulai `bekerja`, banyak yang curiga. UPKP2 yang saya bentuk untuk membenahi birokrat dicurigai macam-macam. Bahkan ada yang bilang inspektorat bayangan. BPK gadungan. Tapi, seiring waktu, UPKP2 tak hanya mengurusi birokrat, sampai yang mau cerai pun datang ke sana.
Apalagi yang ada di Batang?
Di sini banyak menyimpan `misteri`. Pilkades tanpa money politic. Itu keren, tapi enggak ada yang diekspose. Ada juga Omah Sadar. Tempatnya di lokalisasi. Omah Sadar saya lengkapi dengan mesin jahit, pelatihan salon, dan ada dakwah. Harapannya, penghuni lokalisasi bisa memilih jalan lebih baik.
Omah Sadar sudah ada jauh sebelum geger penertiban Gang Dolly di Surabaya dan Kalijodo di Jakarta. Saya juga buat Omah Sadar di kampung-kampung untuk menampung mereka yang bernasib kurang baik, karena HIV/AIDS. Di situ bukan WTS saja, banyak pula ibu rumah tangga.
Saya dengan teman-teman di sini, alhamdulillah juga sudah membuat tiga pesantren di dalam lembaga pemasyarakatan. Ada taman membaca Alquran. Sudah beberapa tahun ini jalan. Hasilnya, ada (penghuni LP) yang kini sudah hafal sepuluh juz lho.
Satu-satunya lukisan yang ada di kamar pribadi saya juga dari teman di LP. Tulisannya, `Adalah tidak mustahil di dalam sebuah kegelapan ada setitik cahaya. Karena setitik cahaya itu jadi penerang dalam kegelapan itu.`
Bupati Yoyok usai pelantikan, 13 Februari 2016.Dok/Istimewa
Anda diganjar ISO (Organisasi Internasional untuk Standardisasi) karena itu?
Enggak. ISO itu hubungannya dengan proyek. Momok dalam pemerintahan itu proyek karena jadi sumber korupsi. Nah, saya kepung-kepung sumber korupsi itu.
Begini, bupati atau keluarga bupati itu biasanya dekat dengan kekuasaan. Biasanya berhubungan dengan proyek. Makanya, ketika awal menjabat, saya langsung buat surat kepada seluruh kepala dinas. Isinya, agar kepala dinas tidak memfasilitasi siapa pun yang mengaku saudara, kakak, atau adik saya, mengaku atas nama bupati, tim sukses bupati atau siapa pun yang meminta proyek atau fee proyek.
Surat harus ditempel di belakang kursi dan meja kerja kepala dinas. Sampai sekarang. Lalu, saya cegah lagi dengan pakta integritas. Harapannya kepala dinas mengerti, jangan main-main dengan uang negara.
Setelah komitmen terbangun, saya susun dalam sebuah sistem. Saya ambil sistem lelang terbaik. Saya mencontoh mbak Risma. Ketika sistem sudah bagus, saya memilih enam orang dari ratusan kandidat yang dinilai mumpuni untuk menggerakkan sistem. Setelah terpilih dan ditempatkan, saya enggak mau berhubungan dengan mereka. Sistem bagus tidak akan ada lagi intervensi.
Lelang proyek, misalnya. Pemenangnya kan dapat SPK. Biasanya, saat akan menyerahkan SPK, dia harus `menunggu bapak dulu`. Atau `menghadap bapak`. Budaya itu saya sikat. Yang saya lakukan, waktu mereka menyerahkan SPK, saya kumpulkan LSM, media, dinas terkait, dan sekda. Kontraktor saya suruh baca pakta integritas.
Selesai, belum! Saya cegat lagi di UPKP2. Rakyat boleh mengecek langsung pekerjaan kontraktor. Statement saya: barang siapa di tempat mana pun ada proyek pemerintah dan di situ ditunggu preman, saya hajar kamu kepala desa/dinas.
Terakhir, semua proyek yang sudah selesai 100 persen dan mau diserahkan ke pemda, harus dicek secara fisik. Modar!
Anda juga menggagas Festival Anggaran. Anda mengklaim itu satu-satunya di Tanah Air. Apakah itu bukan bentuk pencitraan?
Saya bukan media darling. Kalau pencitraan niatnya memang pencitraan. Tapi, tidak begitu. Beberapa bulan lalu, ketika berita Kabupaten Batang, dimuat di salah satu media nasional--meski cuma dua judul--sudah hormat saya.
(Semuanya kan berubah) setelah saya terima Bung Hatta Anticoruption Award. Meledak. Pada akhirnya semua dari kalian (wartawan-Red.) ke sini. Sekarang banyak negarawan dan tokoh politik ngajak ketemu. Sampai-sampai nama saya selalu dikaitkan dengan Pilgub DKI 2017.
Tapi, dari semua itu ada berkah, mereka jadi tahu ternyata di sini ada yang aneh-aneh. Ada Festival Anggaran. Ada UPKP2. Mana ada itu di tempat lain.
Dari mana Anda punya ide menggelar Festival Anggaran?
Ini sebetulnya yang keempat. Jadi gara-garanya, pada saat dilantik pada 13 Februari 2012, saya bersumpah setiap tanggal itu saya akan melaporkan kinerja saya kepada masyarakat. Tapi yang pertama bentuknya belum seperti yang sekarang.
Saat itu, saya kumpulkan seluruh ketua RT, RW, camat, lurah, dan tokoh setempat. Puluhan ribu jumlahnya. Kemudian saya bagikan lembaran begini (Yoyok menunjukkan satu halaman koran). APBD Batang dipakai apa saja ada di lembaran itu.
Harapan saya dahulu, setelah diterangkan mereka menjadi tahu dan meneruskannya ke warga. Perintah saya, pasanglah di masjid, musala, atau terangkan kepada masyarakat kampung. Tapi, ternyata masyarakat kita kan punya kebiasaan jelek: setelah dibaca dibuang (kertas) itu.
Mungkin ada pihak yang terganggu?
Kalau yang pertama itu belum kelihatan. Tahun kedua, saya hanya kumpulkan tiga kecamatan. Mungkin akan efektif kalau orangnya lebih sedikit. Tapi, sama saja. Aduh, capek doang.
Bercermin dari dua pengalaman itu, akhirnya muncul bagaimana kalau kita festivalkan. Festival kan range waktunya agak panjang, semua bisa lihat. Jadilah Festival Anggaran. Teman-teman SKPD ada yang senang ada yang tidak.
Tujuan Festival Anggaran agar transparan. Apakah Anda melihat penggunaan anggaran selama ini tidak beres?
Saya enggak ngerti. Yang jelas, saya ingin rakyat terlibat langsung dalam proses yang saya lakukan, dari awal. Menurut saya, keterbukaan akan memagari saya dan teman-teman (agar tidak main-main). Saya berharap kontrol paling kuat datang dari rakyat.
Apalagi, ada image di Batang, bupati itu bisa melakukan apa pun. Tak jarang dikeramatkan dan dikultuskan. Harus dipanggil yang dipertuan agung atau kanjeng. Nah, itu saya ubah semua. Sampai-sampai rumah saya terbuka lebar 24 jam penuh. Siapa saja bisa masuk, orang gila pun masuk. Masya Allah.
Festival Anggaran 2016 yang keempat, apa hasil evaluasi festival sebelumnya?
Ooo...rakyat sekarang berani. Bayangkan, ketika kita membuat proyek, taruhlah bikin tembok, ada loh warga yang datang ke sini membawa olahan semen dan pasir. Dia protes, `Pak, saya tidak terima. Olahan semen dan pasir ini tak sesuai.` Hebat enggak. Luar biasa.
Untuk SKPD, mereka yang siap, no problem. On the track saja. Mereka menyambut gagasan saya itu, bahkan sampai ada istilah di SKPD, saya punya sumber pendapatan baru: efisiensi.
Bagaimana nasib SKPD yang tidak siap, dipecat?
Menyerah ada. Sampai nangis, `Jangan saya. Saya takut pak.` Kepala Dinas Bina Marga, misalnya, memilih mundur karena enggak mau saya pindah. Asisten I enggak mau saya jadikan Dinas Pendidikan. Asisten II maunya inspektorat, tapi enggak boleh.
Yang baru-baru ini mengundurkan diri Kepala Dinas Pariwisata. Dia langsung mundur begitu saya lempar jadi staf ahli. Kinerjanya enggak bagus.
Efesiensi itu berlaku di semua tingkatan, mulai dari lurah. Sebelum ada efesiensi semua rapat di hotel. Sekarang tidak. Contoh lain, sebelum ada efisiensi, anggaran PKK untuk istri saya Rp800 juta per tahun, sekarang hanya saya kasih Rp250 juta. Tetap jalan, namanya tidak berubah, tetap PKK.
Anda giat mereformasi birokrasi, bagaimana dengan pembangunan fisik atau infrastruktur di Batang?
Itu jangan tanya saya, tanya masyarakat dong. Biar realistis. Yang jelas, saya menggarisbawahi saja, membangun fisik itu gampang. Bangun jembatan. Bangun taman. Apalagi, taman jomblo. Gampang sekali. Kenapa? Ada ahli dan ada duitnya.
Yang sulit adalah membangun sumber daya manusia, mengajak teman di pemkab punya visi dan misi yang sama dengan kita.
Bagaimana kekuasaan menurut Anda?
Anda sebut kekuasaan saja saya enggak suka kok!
Kepemimpinan?
Kalau pemimpin itu orang yang benar-benar dikorbankan. Kalau dahulu di militer, walaupun ada istilah itu, saya tidak pernah dikorbankan. Karena saya bisa gampar orang setiap saat. Kalau mau enak, ya itu tadi, berkuasa. Tinggal perintah.
Kalau pemimpin harus memberi contoh. Harus di tengah-tengah. Bareng-bareng. Bisa men-support. Makan tidak boleh kenyang. Contoh, dari awal saya di sini (Pendopo Bupati) saya sampaikan ke bagian umum jangan berikan fasilitas baru di rumah dinas, kecuali rusak, hancur, kebakar. Jadi, semua yang ada di sini bekas semua. Yang diganti cuma televisi, itu pun enggak mudah.
Saya juga bilang enggak akan beli mobil dinas saat menjabat. Maksud saya itu, saya mau memberi contoh kepada teman-teman. Tapi, tetap saja setiap tahun mereka menganggarkan. Hehehe...mereka ganti mobil baru.
Jadi, Anda sudah yakin enggak maju di 2017?
Sudahlah....Sudah.
Banyaknya fenomena dari para pengguna media karena alasan tertentu lalu mencomot foto2 di internet salah satunya dengan tampilan gambar yang berbalik membelakangi audiencenya. Dalam pemahaman gw kecenderungan seperti itu apapun alasanya tetep ga bisa di tolerir dari sisi norma dan etika alias kurang ajar dan belum layak bisa di sebut sebagai pengguna media yang profesional (ora etis)
BalasHapusBtw bagi gw mending liat profil yang blank ga ada fotonya sama sekali drpd begitu melihat di wall seolah kita cuma di bokongi.. Jiaann...ora urus babar blass... Malah kyk sundel bolong..
Nek cangkeme nggambleh ono sing ora trimo yo tak busek permanen sisan... Egepeh gw mah...
Kecenderungan kondisi yang menghampiri seseorang itu sifatnya dinamis, dalam artian seseorang tak bisa memprediksikan seperti apa kelak endingnya terkait keyakinan yang gigih ia gelorakan dalam hatinya, tapi juga harus di barengi dengan segenap semangat serta rasa optimisme bahwa akan selalu ada keniscayaan bagi mereka yang mau berusaha memperjuangkan maksud dan tujuanya..
BalasHapusSelamat siang para pejuang kebahagiaan.. \=D/